Retorika.co.id, Takalar – Proses rehabilitasi SDN 73 Bontorita 1, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, mulai menjadi perhatian. Dengan anggaran yang disebut mencapai lebih dari Rp700 juta, pekerjaan tersebut mencakup sekitar 10 ruang kelas, 3 unit WC, serta penataan lingkungan sekolah.
Sedikitnya anggaran dan banyaknya item pekerjaan membuat pihak sekolah mengaku harus ekstra waspada agar seluruh kebutuhan yang telah direncanakan benar-benar terealisasi di lapangan.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Pihak sekolah disebut “sulit tidur” karena berharap rehabilitasi tidak sekadar mengejar penyelesaian fisik, tetapi benar-benar menghasilkan sarana pendidikan yang layak, aman dan sesuai kebutuhan.
Setiap bagian pekerjaan dinilai harus mengacu pada perencanaan serta spesifikasi yang telah ditetapkan, sehingga tidak ada kebutuhan penting sekolah yang justru terabaikan dalam pelaksanaannya.
Sorotan juga diarahkan kepada dinas terkait agar tidak hanya menunggu laporan administrasi, tetapi aktif melakukan pengawasan di lapangan. Mulai dari kualitas material, volume pekerjaan, pengerjaan ruang kelas dan WC hingga penataan lingkungan sekolah harus diperiksa secara berkala.
Pengawasan menjadi penting karena anggaran yang digunakan merupakan uang negara yang semestinya dikonversi menjadi fasilitas pendidikan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh siswa dan tenaga pendidik.
Pihak sekolah pun berharap seluruh proses rehabilitasi SDN 73 Bontorita 1 berjalan transparan dan konsisten dengan perencanaan awal. Jangan sampai anggaran sudah ratusan juta bahkan lebih dari Rp700 juta, tetapi hasil akhirnya tidak sebanding dengan kebutuhan sekolah.
Dinas terkait diminta memastikan setiap item yang telah masuk dalam perencanaan dikerjakan sebagaimana mestinya, sehingga rehabilitasi tersebut benar-benar menjadi investasi untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan layak bagi para siswa.
(Tim)






