Retorika.co.id, Gowa — Anggota Komisi V DPR RI, Hamka B. Kady, meninjau langsung pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dalam kunjungan tersebut, Hamka didampingi Satker Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang serta para ketua kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).
Ia menegaskan, program yang menyentuh langsung kebutuhan petani tersebut tidak boleh dikerjakan sekadar mengejar target penyelesaian, tetapi wajib mengedepankan mutu dan manfaat jangka panjang.

“Program ini harus dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Jangan hanya mengejar penyelesaian, tetapi pastikan mutu pekerjaan terjaga agar saluran irigasi dapat bertahan lama dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi para petani,” tegas Hamka.
Menurutnya, hasil pekerjaan yang ditinjau secara umum sudah cukup baik, namun masih terdapat sejumlah aspek yang perlu ditingkatkan, khususnya terkait komposisi campuran material yang harus mengikuti aturan teknis dan standar yang telah ditentukan. Ia mengingatkan, kualitas campuran sangat menentukan kekuatan dan daya tahan bangunan irigasi.
Hamka juga memberikan peringatan keras agar tidak ada pihak yang mengutamakan kepentingan pribadi dalam pelaksanaan program tersebut.
“Kalau dikerja asal-asalan, kasihan uang negara. Ini menjadi tanggung jawab kita semua,” ujarnya. Ia meminta para pelaksana dan kelompok P3A menyelesaikan pekerjaan sesuai arahan teknis dari pihak Pekerjaan Umum, karena setiap volume dan anggaran telah melalui perhitungan.
Menurutnya, jika terdapat hak kelompok dari selisih pekerjaan, hal tersebut tetap harus ditempatkan sesuai ketentuan dan tidak boleh mengorbankan kualitas pekerjaan.
Selain kualitas konstruksi,
Hamka menekankan pentingnya memastikan pembangunan jaringan irigasi benar-benar dimulai dari sumber air dan dilengkapi pintu air sesuai kebutuhan. Ia mengingatkan, pembangunan saluran tanpa memastikan sumber dan sistem pengambilan air justru berpotensi kehilangan fungsi utamanya.
Namun, ia juga menegaskan bahwa desain harus fleksibel mengikuti kondisi lapangan. Di daerah tertentu, distribusi air dapat menggunakan pipa, seperti yang telah diterapkan di Toraja, Jeneponto dan sejumlah wilayah lainnya, selama secara teknis memang lebih efektif untuk mengalirkan air ke persawahan.
Di akhir kunjungannya, :
Hamka menitipkan pengawasan pelaksanaan P3-TGAI kepada para ketua kelompok P3A dan pihak terkait agar setiap pekerjaan benar-benar dilaksanakan secara cermat, transparan dan sesuai standar. Ia bahkan membuka peluang penambahan program pada tahun berikutnya bagi kelompok yang mampu menunjukkan kinerja dan kualitas pekerjaan yang baik.
“Kalau prestasinya bagus, Insya Allah tahun depan kita tambah. Tapi kalau kualitasnya kurang bagus, kita pikir-pikir untuk menambah.
Jangan sampai uang negara terbuang sia-sia,” tegasnya.
Pesan Hamka jelas:
P3-TGAI bukan sekadar proyek yang harus selesai, tetapi amanah negara untuk memastikan air sampai ke sawah dan memberi manfaat nyata bagi petani.
(MANSYUR)






