Retorika.co.id, Takalar – Demam Pesta Olahraga empat tahunan sepak bola terbesar di dunia akhirnya resmi berakhir. Turnamen bergengsi ini melahirkan sejarah baru setelah Spanyol keluar sebagai juara usai menumbangkan Argentina dengan skor tipis 1-0. Kemenangan dramatis tim Matador tersebut dipastikan melalui gol tunggal di babak perpanjangan waktu (extra time) setelah kedua tim bermain imbang sepanjang 90 menit babak normal.
Di balik kemeriahan laga pamungkas tersebut, cerita unik dan menarik justru datang dari salah satu daerah di Indonesia, tepatnya Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Pemerintah Kabupaten Takalar mengambil kebijakan tak biasa demi memanjakan para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ingin menikmati partai final tanpa mengabaikan kewajiban mereka sebagai pelayan masyarakat.
Langkah tidak biasa ini diambil lantaran perbedaan zona waktu pertandingan final di berbagai negara. Di wilayah Indonesia Tengah (WITA), khususnya Kabupaten Takalar, peluit pertama (kick-off) babak pertama laga final baru dimulai tepat pada pukul 04.00 WITA. Laga yang berlangsung hingga babak perpanjangan waktu tersebut praktis selesai mendekati jam masuk kerja normal.
Menyikapi jam tayang yang berlangsung hingga dini hari tersebut, Bupati Takalar secara khusus mengambil keputusan diskresi demi para pegawainya. Kebijakan simpatik ini membuktikan fleksibilitas kepemimpinan daerah dalam menyesuaikan momen langka empat tahunan tanpa mengorbankan kedisiplinan ASN.
Bupati Takalar secara resmi menggeser pelaksanaan Apel Pagi rutin—yang biasanya digelar setiap hari Senin—menjadi hari Selasa. Penyesuaian jadwal ini memberikan ruang dan kesempatan bagi seluruh ASN di lingkup Pemkab Takalar untuk menyaksikan pertandingan final dengan tenang tanpa perlu terburu-buru menghadiri apel di pagi hari.
Meskipun jadwal apel pagi diubah, Bupati menegaskan bahwa pelayanan publik di seluruh kantor instansi Pemkab Takalar tetap berjalan optimal. Kebijakan ini mendapat apresiasi hangat dari para ASN karena dinilai sebagai bentuk perhatian pimpinan yang humanis sekaligus menjaga stabilitas efektivitas kerja pasca-euforia final Piala Dunia.
(MANSYUR)






